Bacaanteks lafal sholawat ghozali bahasa Arab, latin dan artinya atau terjemahan Indonesia adalah sebagai berikut. diikuti bacaan surat al ikhlas dan wirid atau dzikir ghazali. 1. Sholat Tahajud. Tata cara mengamalkannya adalah dengan melakukan sholat tahajud sebanyak 4 rakaat dengan masing-masing 2 kali salam. Berikut adalah rincian
Liputan6.com, Jakarta - Ada berbagai amalan wirid atau dzikir. Lafal dan cara pengemalannya bermacam-macam dan bervariasi. Salah satu tujuan wirid adalah agar hari-hari kita dihiasi oleh asma Allah SWT yang menyebabkan hati kita tidak gersang, dan dibukakan jalan menuju Tuhan semesta alam.
Imam Abi Hamid Al-Ghazali menerangkan dalam kitabnya Al-Maqshadul asna syarhi asmaa illahi Husna: "Sebuah warid menerangkan, Rasulullah saw berkata: "Ismul a'zham terdapat dalam dua buah ayat. Pertama "Wa ilaa hukum" sampai akhir (Ar-Rahim) dan kedua, ayat permulaan surah Ali Imran, yaitu " Alif laam miin sampai akhir" (alQayyuum).
Nama besarnay Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al- Imam Al-Jahl, Abu AHmid Ath Thusi Al-Ghazali. Populair dengan gelar Hujjatul Islam, karena banyak pembelaannya kepada keislaman. Beliau lahir di Thusia pada tahun 450-505 H (1058-1111 M.). [6]
Imamal-Ghazali menjawab, bahwa membaca al-Quran dalam keadaan berdiri ketika sholat sambil men- tadabbur -i maknanya itu sudah mencakup keseluruhan (sholat, qiroah, dan tafakkur). Namun untuk melakukan dan membiasakan hal tersebut sangatlah sulit bagi seseorang, maka yang terbaik adalah melihat pada kemampuan orang tersebut.
Yang artinya: "Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.". Mengenali lebih dalam terhadap diri sendiri dilakukan secara lahiriah hingga batiniah. Diperlukan bagi manusia untuk berkomunikasi kepada dirinya sendiri dalam proses pengenalan terhadap diri tersebut. Mulai dari pengenalan fisik, sifat, hingga kemampuan dan kelemahan
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam
Cwqh1lh. DzikirDzikir PembukaPosting terkait Imam Al Ghozali berkata Pertama-tama saya berupaya menempuh jalan tasawuf dengan banyak wirid, dzikir, puasa, dan sholat. Kemudian ketika Tuhan melihat ketulusan niat-niat saya. Dia memerintahkan agar mengunjungi salah seorang wali Nya, beliau berkata kepada saya Al Ghozali . ” Jauhkan dirimu / hatimu , dari segala keterikatan, kecuali keterikatan kepada Allah. Dzikir Dan menyendirilah seraya mengucapkan dengan kekuatan konsentrasimu, Allah…..Allah…..Allah…..” Imam Al Ghozali juga mengatakan Apabila pikiran anda keruh dengan yang selain Allah berarti Anda perlu menafikannya dengan Laa ilaaha illallah. Namun sekali Anda telah terhindar dari segala hal dalam perenungan kepada Dia Allah, Anda akan tentram di dalam ketentraman. Kemudian Imam Al Ghozali berkata “Apabila anda berhenti mengingat yang tak pernah ada dan sibuk mengingat Dia yang senantiasa Ada. Kau mengucap Allah dan bebas dari segala hal yang lain”. Dzikir Pembuka Imam Al Ghozali juga mengatakan, ” Buka pintu hatimu dengan kunci kalimat Laa ilaaha illallah dan buka pintu rohmu dengan ucapan Allah dan pikatlah burung rahasiamu dengan ucapan Huwallah……..” Seseorang yang sudah tegak taqwanya dan menegakkan taqwa orang lain yang sangat khas terhadap dirinya ialah dia tidak mempunyai rencana apapun dan terus menerus tertumpu pada ilham yang membisikkan kepada rohnya apa yang harus dilakukan. Jadi walaupun dia seorang yang ternama, yang suka menyisih dan menyendiri, serta tak tertarik bergaul dengan mereka yang bukan fakir maupun dengan yang fakir. Tetapi kalau mereka datang dengan keperluan-keperluan tertentu mereka dilayani dengan hanya ketentuan melalui bisikan rohnya ilham lewat roh. Dan ketentuan-ketentuan inilah bukan kecenderungan maunya. Karena di dalam pengertian lain seorang fakir dan yang bukan fakir. Dapat menjadi pembimbing bagi dirinya sendiri maupun dengan yang lainnya. Setelah satu tahapan tertentu dia dalam pencapaiannya, dia akan membimbing yang lain atas bimbingan dari Pembimbingnya. Bilamana berbicara kelihatannya dia pelupa, seakan-akan tertumpu bantuan dari luar pada saat yang sama dia menguasai hati orang itu dan membawanya ketujuan dari apa yang dibicarakan. Dia bicara kepada orang menurut daya tangkap dan kecenderungan tertentu itu, kelihatannya seolah-olah orang yang diajak bicara adalah orang yang satu-satunya paling dia perhatikan. Pembicaraannya itu ditujukan kepada semua orang yang datang untuk mendengar yang diucapkannya. Karena jika sedang melayani mereka, dengan hanya melalui bisikan ilham lewat rohnya semata. Kepercayaan pada ilham merupakan salah satu ciri hakiki kaum Sufi pada puncak kematangannya. Kepercayaan ini tak kurang dari sebuah tingkatan rohani utama yang merupakan tujuan utama para Sufi. Sumber
PERTANYAAN السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته Baarakallahu Fiik, Yaa Ustadz, ada yang saya mu tanyakan 1. Apakah Kitab Majmu Syarif adalah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam ? 2. Apakah membaca Surat Yasin, Al Mulk & Al Waqiah setelah shalat maghrib ada dalil shahihnya? 3. Apakah ada dalil shahinya Dzikir Harian Imam Al-Gazali yg dibaca per 1000x ? Demikian pertanyaan dari saya. جـزاك اﻟلّـہ خـــيرًا Dari Hanifah Kurniati Di Bandung Anggota Grup WA Bimbingan Islam T-05 G-38. Jawaban وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته 1. Kitab Majmu’ Syarif ini kami menganjurkan untuk meninggalkannya dan diganti dengan kitab dzikir yang lain yang berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Adapun kitab Majmu’ Syarif ini, penulisnya saja tidak jelas, tidak dikenal bahkan tidak ada yang tahu. Di sisi lain para ulama salaf memerintahkan kita untuk tidak sembarangan mengambil ilmu agama dari seseorang. Imam Muhammad bin Sirin berkata إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Muqaddimah Shahih Muslim 1/7. Dan ternyata kitab ini memuat banyak sekali kepalsuan, banyak menetapkan hal-hal ghaib, khasiat, keutamaan dari dzikir-dzikir tertentu dengan tanpa ada dalil shahih yang mendasarinya. Untuk lebih detailnya kami menyarankan penanya untuk menyimak pengajian berjudul “Mengupas Kitab Majmu’ Syarif” dalam tautan berikut ; 2. Kami belum mendapati dalil berkaitan dengan pertanyaan penanya. Membaca Al-Qur’an, atau salah satu surat dalam Al-Qur’an itu kapan saja dan tidak boleh bagi kita mengkhususkan waktu tertentu melainkan dengan dalil khusus yang shahih. Dan kami belum pernah menjumpai adanya dalil tersebut. 3. Kami belum mengetahui dzikir Imam Al-Ghazali yang dimaksud seperti apa bunyi redaksinya sehingga kami belum bisa menjawabnya. Wallahu a’lam. Konsultasi Bimbingan Islam Ustadz Abul Aswad Al Bayati Read Next November 7, 2022 Mengenal Para Salaf September 15, 2022 Bolehkah Memilih Pemimpin Asal-Asalan? September 13, 2022 Pemimpin Zalim Harus Dibuka Aibnya. Benarkah Pernyataan Itu? September 7, 2022 Tidak Tahu Melakukan Perbuatan Pembatal Keislaman, Auto Kafir? June 29, 2022 Pemimpin Berbohong, Zalim Dan Tidak Adil, Wajib Taat? June 13, 2022 Sikap Muslim Terhadap Pemerintah/Pemimpin May 23, 2022 Ini Dia Cara Mengetahui Manhaj Seseorang! May 16, 2022 Siapa Yang Berhak Menghukumi Ahlul Bid’ah? March 18, 2022 Mengaku Bermanhaj Salaf, Tapi Akhlaknya Kok March 4, 2022 Menyikapi Pemimpin yang Suka Ngibul
Mengamalkan wirid Imam Al Ghazali. Foto dok. Wirid Imam Al Ghazali yang Mudah Diamalkan Setiap Hariيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا , وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًاArtinya “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” QS. Al-Ahzab 41-42Mengamalkan wirid Imam Al Ghazali setelah sholat. Foto dok. كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْ هذِهِ الْكَلِمَاتِ إِمَّا مِائَةَ مَرَّةٍ أَوْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً، أَوْ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَهُوَ أَقَلُّهُ، لِيَكُوْنَ الْمَجْمُوْعُ مِائَةً. وَلَازِمْ هذِهِ الْأَوْرَادَ، وَلاَ تَتَكَلَّمْ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ؛ فَفِي الْخَبَرِ أَنَّ ذَلِكَ أَفْضَلُ مِنْ إِعْتَاقِ ثَمَانِ رِقَابِ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَعْنِي الإِشْتِغَالَ بِالذِّكْرِ إِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَخَلَّلَهُ كَلَامٌArtinya, “Engkau ulang-ulang setiap wirid dari wirid-wirid itu, entah seratus kali atau tujuh puluh kali, atau sepuluh kali dan ini paling sedikitnya agar menjadi seratus. Dawamkan wirid-wirid ini, jangan berbicara sebelum terbitnya matahari; terdapat dalam hadits, bahwasannya tidak berbicara sebelum terbitnya matahari lebih utama dari memerdekakan delapan budak dari anak turunan Nabi Ismail sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, yang aku maksud yaitu menyibukkan dengan dzikir sampai terbitnya matahari tanpa menyelanginya dengan pembicaraan.”الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُArtinya “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’du 28
Usaha menjadi salah satu hal yang harus dilakukan umat manusia untuk meraih apa yang diinginkan. Hanya saja, ada juga yang penting dari sekadar usaha, yaitu berdoa. Doa menjadi salah satu ikhtiar dalam meraih keinginan. Doa menjadi salah satu bukti tidak kuasanya seorang hamba tanpa disertai kehendak dari Tuhan. Bahkan, doa bisa menjadi bahan peningkatan spiritualitas untuk mendekatkan diri pada Allah. Banyak teks-teks Al-Qur’an dan hadist yang memerintahkan umat Islam untuk berdoa, di antaranya وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Artinya, “Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu’.” QS. Ghafir 60 Dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam bersabda اَلدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ Artinya, “Doa adalah senjata orang mukmin, pilar agama Islam, dan cahaya langit dan bumi.” HR. Al-Hakim Dua dalil naqli di atas menjadi bukti bahwa berdoa merupakan ikhtiar penting yang harus dilakukan seorang hamba. Bahkan, doa juga merupakan ibadah bagi umat Islam. Setiap perintah yang Allah perintahkan, maka mengerjakannya merupakan ibadah. Sedangkan ibadah tidak selalu tentang shalat, puasa, sedekah, zakat, dan lainnya. Berdoa juga bagian dari ibadah. Dalil di atas juga menjadi bukti untuk menolak pemahaman-pemahaman keliru yang menganggap bahwa berdoa akan mengeluarkan seseorang dari rela terhadap takdir yang Allah tentukan. Tentu tidak demikian, doa sama sekali tidak menjadi sebuah media untuk menolak takdirnya. Imam al-Ghazali menanggapi pernyataan-pernyataan demikian, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin disebutkan وَلَا يُخْرِجُ صَاحِبَهُ عَنْ مَقَامِ الرِّضَا. وَكَذَلِكَ كَرَاهَةُ الْمَعَاصِي وَمَقْتُ أَهْلِهَا وَمَقْتُ أَسْبَابِهَا وَالسَّعْيُ فِي إِزَالَتِهَا بِالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَا يُنَاقِضُهُ أَيْضًا Artinya, “Doa tidak mengeluarkan orang dari maqam rela terhadap takdir. Begitu juga membenci maksiat, benci kepada pelakunya, kepada sebabnya, dan usaha untuk menghilangkannya dengan amar ma’ruf nahi munkar, semua itu tidak bertentangan dengan maqam rela terhadap takdir.” Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Bairut, Darul Ma’rifah 2010], juz IV, halaman 351. Menurut Al-Ghazali, pemahaman yang mengatakan bahwa berdoa menunjukkan sikap tidak terima pada takdir Allah merupakan pemahaman yang keliru dan perlu diluruskan. Anggapan seperti itu merupakan anggapan orang-orang yang tidak paham cara memahami takdir yang sebenarnya dan konsep ridha secara subtansial, serta lupa pilar-pilar syariat. Jika digugat, betapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadist tentang perintah untuk rela terhadap semua kepastian Allah. Di antaranya sabda Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللهُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللهُ Artinya, “Termasuk keberuntungan anak Adam adalah kerelaannya terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya, dan termasuk kesengsaraan anak Adam adalah sikap benci tidak menerima terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya.” HR At-Tirmidzi Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan kepastian Allah sejak zaman azali. Mulai dari kaya, miskin, sehat, sakit, bahagia, menderita, susah, senang, taat, maksiat dan lain sebagainya. Tentu seorang muslim harus rela dengannya. Jika semuanya merupakan kepastian Allah, membenci atau menghindar dari semuanya menunjukkan membenci kepastian Allah. Benarkah demikian? Lantas bagaimana cara menyikapi dua dalil yang sama-sama menjadi perintah? Meyakini semua kejadian merupakan kepastian Allah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Demikian pula rela dengan semua kejadian tersebut. Adapun berdoa merupakan perintah Allah kepada semua makhluk-Nya. Karenanya, dua hal ini menjadi rancu bagi pemikiran-pemikiran yang tidak memahami ilmu agama, utamanya ilmu yang membahas akan takdir dan doa. Tentu menjadi bumerang bagi orang-orang yang terlalu mengedepankan semua takdir Allah dengan segala ketentuannya, dan melupakan kehendak Allah dengan segala otoritas terhadap kepada-Nya. Menurut Imam al-Ghazali, bisa jadi akan muncul dua sikap berbeda dalam menyikapi satu hal. Misalnya ketika menemukan pelaku maksiat. Di satu sisi, semua pekerjaan yang dilakukan olehnya merupakan ketentuan, kehendak, dan ikhtiar Allah, maka siapa pun harus rela dengan kejadian itu sembari memasrahkan semuanya pada Allah. Namun di sisi lain, melihat bahwa aktor yang berperan dalam pekerjaan itu adalah seorang hamba yang dengan melakukan maksiat itu artinya ia menjadi orang yang dimurkai Allah, maka dari sisi ini siapa pun harus membenci perbuatan maksiatnya itu disertai dengan upaya untuk menghilangkannya. Melihat penjelasan di atas, dalam persoalan maksiat yang semuanya merupakan takdir dan ketentuan dari Allah, maka sikap yang benar menurut al-Ghazali adalah أَنَا مُحِبٌّ لَهُ وَرَاضٍ بِهِ فَإِنَّهُ رَأْيُكَ وَتَدْبِيرُكَ وَفِعْلُكَ وَإِرَادَتُكَ Artinya, “Aku mencintai dan ridha dengannya, karena semua itu merupakan pendapat-Mu, aturan-Mu, pekerjaan-Mu, dan kehendak-Mu.” Sedangkan ketika melihat sisi perbuatan maksiat seorang hamba, maka sikap yang benar adalah أَنَا كَارِهٌ لَهُ مِنْ حَيْثُ نِسْبَتُهُ إِلَيْهِ وَمِنْ حَيْثُ هُوَ وَصْفٌ لَهُ لَا مِنْ حَيْثُ هُوَ مُرَادُكَ وَمُقْتَضَى تَدْبِيرِكَ Artinya, “Saya benci dengan perbuatan maksiatnya dari sisi disandarkan kepada pelakunya dan dari sisi pekerjaan itu dilakukan olehnya. Bukan dari sisi kehendak-Mu dan konseuensi pengaturan-Mu.” Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, juz IV, halaman 351. Dari uraian di atas sangat penting kiranya memahami semua takdir Allah dan segala kepastiannya, serta ikhtiar seorang hamba, baik doa dan usaha lainnya, dengan segala kemungkinan yang bisa Allah ubah kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya. Memahami perbedaan keduanya akan memberi pemahaman bahwa kebaikan dan kejelekan sumbernya dari Allah. Hanya saja, kebaikan merupakan kehendak Allah yang diridhai, sedangkan kejelekan adalah kehendak Allah yang dimurkai. Begitupun perihal doa. Berdoa bukan berarti menunjukkan seorang hamba tidak rela dengan takdir Allah. Secara personal, orang harus memasrahkan semuanya kepada Allah dan rela dengan takdir-Nya. Namun di sisi lain, sebagai hamba juga mempunyai hak untuk meminta apa yang ia inginkan kepada Tuhan-Nya. Sedangkan tujuan berdoa sebagaimana yang disampaikan Imam al-Ghazali adalah لِيَسْتَخْرِجَ الدُّعَاءُ مِنْهُمْ صَفَاءَ الذِّكْرِ وَخُشُوعَ الْقَلْبِ وَرِقَّةَ التَّضَرُّعِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ جَلَاءً لِلْقَلْبِ وَمِفْتَاحًا لِلْكَشْفِ وَسَبَبًا لِتَوَاتُرِ مَزَايَا اللُّطْفِ Artinya, “Agar doa menjadi penyebab kebeningan dzikir, kepatuhan hati, kebersihan sikap lemah lembut dari para hamba. Semuanya akan menjadi sebab keterbukaan hati, menjadi kunci untuk membuka ruang tertutup hati dari Allah, dan menjadi sebab terus-menerusnya anugerah kebaikan.” Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, juz IV, halaman 351. Wallahu a’lam. Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Para ulama yang mulia menganjurkan agar kita sebagai orang Islam untuk mengistikamahkan zikir harian, dua di antaranya Imam Al-Ghazali dan Imam As-Syafi’i. Dua ulama yang menjadi panutan umat Islam seluruh dunia tersebut menganjurkan kita untuk istikamah membaca dan mengamalkan zikir harian. Zikir Harian Imam Al-Ghazali Disebutkan dalam kitab Mujarrabat Al-Dairabi sebagai berikut; baca juga 7 Zikir Pagi Sesuai Sunnah yang Bisa Mendatangkan Rezeki MUI Tegaskan Fatwa Jual Beli Online Sudah Sesuai Prinsip Syariat Islam Dua Qari Asal Indonesia Kembali Sabet Juara Internasional فائدة قال الغزالي رحمه الله تعالى ما حصل لي الفتوح والبركة الا بهذه الاوراد وهي ان تقول في يوم الجمعة يا الله الف مرة وفي يوم السبت لا اله الا الله الف مرة وفي يوم الاحد يا حي يا قيوم وفي يوم الاثنين لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم وفي يوم الثلاثاء تصلى على النبي الف مرة وفي يوم الاربعاء استغفر الله العظيم الف مرة وفي يوم الخميس سبحان الله وبحمده الف مرة Artinya “Faidah; Imam Al-Ghazali berkata; Aku tidak mendapatkan futuh dan keberkahan kecuali dengan wirid-wirid ini. Yaitu di hari Jumat membaca; Yaa alloh, seribu kali, hari Sabtu membaca; Laa ilaaha illalloh, seribu kali, hari Ahad membaca; Yaa hayyu yaa qoyyuum, seribu kali, hari Senin membaca; Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil aliyyil azhiim, seribu kali, hari Selasa membaca shalawat kepada Nabi Saw seribu kali, hari Rabu membaca; Astagfirullaahal azhiim, seribu kali, hari Kamis membaca; Subhaanallaah wa bihamdih, seribu kali.” Zikir Harian Imam As-Syafi’i Disebutkan dalam kitab Al-Umm, berikut zikir harian Imam As-Syafi’i رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمٰوَاتِ وَمِلْءَ الْاَرْضِ وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ. Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mil’as samaawaati wamil al-ardli wa mil a maa syi’ta min syai in ba’du ahlats tsanaa’i wal majdi ahaqqu ma qaalal abdu wa kullunaa laka abdun laa maani’a limaa a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. Artinya “Ya Tuhan kami, hanyalah kepada Mu segala puji pujian yang banyak, baik, yang diberkahi di dalamnya sepenuh langit, sepenuhnya bumi, sepenuh keduanya, dan sepenuh apa yang Engkau inginkan darinya setelah itu. Dzat yang berhak mendapatkan pujian dan kemuliaan sebagaimana yang diucapkan oleh hambaNya. Dan kita semua adalah hamba bagiMu. Tidak ada yang dapat menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan, dan Tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang telah Engkau cegah. Dan kemuliaan itu tidak ada gunanya dariMu Dzat yang memiliki kemuliaan.” Selain zikir harian menurut Imam Al-Ghazali dan Imam Syafii di atas, zikir-zikir penting lainnya yang patut Anda amalkan adalah sebagai berikut
dzikir imam al ghazali dan artinya